Client adalah orang atau perusahaan yang diajak kerjasama dalam bisnis. Umumnya, mereka membutuhkan jasa atau layanan spesifik dalam jangka waktu lama.
Sementara itu, customer adalah orang yang membeli produk atau jasa (bisa sekali atau berulang), tanpa ada ikatan hubungan jangka panjang.
Ingin tahu lebih lanjut soal client dan customer? Yuk, kita pahami client lengkap sampai 8 perbedaannya di bawah!
Apa Itu Client dalam Bisnis?

Kata “client” berasal dari bahasa Latin “cliens,” yang artinya “pengikut” atau “orang yang mengandalkan perlindungan dari orang lain.”
Di zaman Romawi, istilah “cliens” ini digunakan untuk menyebut orang yang bergantung pada perlindungan atau bantuan dari pihak yang lebih kuat, seperti penguasa atau atasan.
Dikutip dari KBBI, klien artinya “orang yang membeli sesuatu atau memperoleh layanan (seperti kesehatan, konsultasi jiwa) secara tetap.”
Dalam konteks bisnis, pengertian client adalah orang atau perusahaan yang mengandalkan jasa atau layanan untuk kepentingan mereka dalam jangka panjang.
Client bisa dibilang “bergantung” pada suatu jasa untuk memberikan layanan yang terus-menerus, seperti konsultan yang selalu membantu perusahaan atau pengacara yang memberi nasihat secara berkala.
Baca juga: 11 Cara Memulai Usaha Kuliner dari Nol, Strategi Sukses untuk Pemula!
Jenis dan Contoh Client dalam Bisnis
Yuk, kita lihat lebih dalam beberapa jenis dan contoh client dalam bisnis!
1. Klien Korporat
Klien korporat adalah perusahaan atau organisasi besar yang membutuhkan jasa atau layanan dalam jumlah besar atau secara rutin.
Salah satu contoh client adalah perusahaan yang menyewa agensi pemasaran untuk mengurus kampanye iklan mereka selama sekian bulan.
Dalam contoh ini, hubungan antara agensi dan klien korporat bisa sangat formal. Karena mereka membutuhkan kesepakatan kontrak yang jelas, dari proses pengerjaan hingga pembayaran yang terstruktur.
2. Klien Individu
Klien individu adalah orang yang menggunakan layanan spesifik untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka, bisa dalam jangka pendek atau panjang.
Contoh gampangnya, klien individu bisa jadi seseorang yang mencari jasa desain interior rumah atau seseorang yang membutuhkan pengacara untuk mengurus perceraian mereka.
Meskipun bersifat personal, bukan berarti hubungan antar penyedia jasa dan klien individu itu non-formal.
Mereka tetap membutuhkan kesepakatan kerjasama yang jelas, mencakup durasi pengerjaan, hasil, pembayaran, revisi, dan lain-lain.
Apa Itu Customer?

Kata “customer” berasal dari bahasa Latin “consuetudinarius,” yang artinya “sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan atau tradisi.”
Dulu, kata ini digunakan untuk menyebut seseorang yang membeli barang atau jasa dari pedagang tertentu secara rutin.
Jadi, customer adalah orang yang membeli barang atau jasa dari kita, bisa satu kali atau berulang kali. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, customer artinya pelanggan.
Customer lebih cenderung membeli produk atau jasa sesuai kebutuhan mereka pada saat itu saja (datang, beli, selesai). Hubungannya lebih sederhana dan tidak sekompleks hubungan dengan client.
Misalnya, Anda membeli baju lebaran dari toko online atau membeli makanan di restoran setiap minggu.
Baca juga: 11 Cara Mengatasi Kecurangan Kasir dengan Aplikasi POS
Jenis dan Contoh Customer dalam Bisnis
Berdasarkan frekuensi pembeliannya, customer bisa dibedakan menjadi tiga:
1. First-Time Customer (Pelanggan Baru)
First-time customer adalah orang yang baru pertama kali membeli produk atau jasa dari bisnis Anda. Mereka biasanya tertarik karena ada suatu penawaran, seperti promosi atau rekomendasi dari teman.
Contoh, Anda baru aja membuka restoran, dan seseorang yang belum pernah datang sebelumnya akhirnya mencoba makan di tempat.
First-time customer tidak langsung jadi pelanggan tetap. Makanya, penting untuk memberikan pengalaman yang baik supaya mereka mau balik lagi, dari segi kualitas, pelayanan, kesan pertama, tempat, dan lainnya.
2. Repeat Customer (Pelanggan Ulang)
Repeat customer adalah pelanggan yang sudah pernah beli produk atau jasa Anda, dan memutuskan untuk kembali lagi.
Contohnya, Anda punya kedai kopi dan pelanggan yang pernah membeli americano datang lagi besok pagi untuk beli produk yang sama atau coba yang lain.
Mereka lebih mudah diajak bertransaksi lagi, karena sudah percaya dengan brand Anda. Repeat customer cenderung lebih loyal, tapi mereka tetap perlu perhatian dan layanan yang baik supaya tetap kembali.

3. Loyal Customer (Pelanggan Setia)
Loyal customer adalah pelanggan yang sudah sangat setia dengan brand atau produk Anda. Selain sering balik lagi, mereka juga jadi “duta” yang merekomendasikan bisnis ke teman-temannya.
Mereka melakukan hal tersebut tanpa ada paksaan, namun karena sudah sangat percaya. Sebab, mereka konsisten mendapat pengalaman yang memuaskan.
Pengalaman ini terkadang subjektif, bisa dari rasa yang sesuai selera pribadi, kualitas produk yang awet tergantung cara pakai/simpan/cuci, suasana tempat nongkrong yang cocok untuk kerja, dan lainnya.
7 Perbedaan antara Client dan Customer
Agar Anda tidak bingung lagi soal perbedaan client dan customer, berikut Nutapos berikan tabel perbedaan singkat dan penjelasannya di bawah!
| Aspek | Client | Customer |
| Jenis Hubungan | Jangka panjang dan personal | Singkat dan transaksional |
| Kesepakatan atau Perjanjian Kerja | Biasanya ada kontrak atau perjanjian formal | Tidak ada kontrak formal, hanya transaksi |
| Strategi Harga | Harga biasanya lebih tinggi dan bisa negosiasi | Harga tetap dan kompetitif |
| Jenis Layanan | Khusus dan disesuaikan dengan kebutuhan | Layanan umum atau produk siap pakai |
| Frekuensi Interaksi | Banyak terlibat secara langsung dan konsultasi | Sedikit terlibat, hanya beli dan pakai (sesuai kebutuhan) |
| Jenis Bisnis | Layanan profesional atau B2B (Business-to-Business) | Bisnis ritel atau B2C (Business-to-Customer) |
| Ekspektasi | Lebih tinggi, fokus pada hasil | Lebih rendah, fokus pada produk |
1. Jenis Hubungan
Client adalah orang yang biasanya memiliki hubungan yang lebih intens dengan penyedia layanan, sementara customer sering hanya berinteraksi sekali.

Seperti konsultasi, pengacara, atau layanan profesional lainnya yang membutuhkan perhatian terus-menerus.
Hubungan ini bisa lebih personal dan terikat kontrak. Sementara dengan customer, hubungan lebih ke transaksi satu kali atau berulang yang lebih sederhana.
Biasanya customer datang hanya saat mereka membutuhkan produk atau layanan tanpa ada ikatan jangka panjang. Jadi, hubungan dengan customer biasanya lebih singkat dan lebih transaksional.
2. Kesepakatan atau Perjanjian Kerja
Dalam dunia bisnis, client adalah yang biasanya memiliki kesepakatan atau kontrak kerja formal, sedangkan customer lebih pada transaksi jual-beli biasa.
Kesepakatan antara client dan penyedia jasa melibatkan kontrak atau perjanjian kerja yang mengikat kedua belah pihak, dan klien mengharapkan layanan profesional yang lebih intensif.
Sementara itu, dengan customer, kesepakatan biasanya lebih sederhana. Tidak ada kontrak atau perjanjian rumit yang mengikat. Customer cuma melakukan transaksi untuk produk atau layanan tertentu, dan selesai.
3. Strategi Harga
Dalam hal harga, klien bisa mendapatkan penawaran yang lebih fleksibel dan bisa dinegosiasikan, terutama jika mereka bekerja dengan dalam jangka panjang atau untuk proyek besar.
Harga bisa disesuaikan dengan jenis layanan yang dibutuhkan dan seberapa sering layanan itu digunakan.
Misalnya, klien yang menyewa jasa konsultan bisnis selama setahun bisa dapat harga yang lebih murah dibandingkan hanya menggunakan jasa dalam satu bulan saja.
Sementara dengan customer, harga biasanya sudah tetap dan lebih standar. Strategi harga untuk customer lebih transparan dan tidak banyak nego, karena mereka biasanya hanya datang untuk membeli barang atau jasa sekali saja.
Baca juga: Sistem Kerja Shift: Pengertian, Aturan, Jenis dan Contohnya
4. Jenis Layanan
Layanan untuk client lebih spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Layanan ini juga lebih mendalam dan memerlukan kontak langsung, karena client sering membutuhkan bantuan yang berkelanjutan atau proyek besar.
Di sisi lain, layanan untuk customer lebih standar dan umumnya bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa perlu penyesuaian khusus. Namun, cara melayani pelanggan juga harus sopan dan solutif.
5. Frekuensi Interaksi
Interaksi dengan client bergantung pada timeline proyek, sehingga lebih sering dan terus-menerus, tergantung jenis layanan yang mereka butuhkan.
Di sini, kedua belah pihak akan saling mendiskusikan perkembangan, kendala, kebutuhan lain, atau hasil/performa. Hubungan ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Sedangkan dengan customer, frekuensi interaksi lebih jarang terjadi dan terbatas hanya pada saat mereka membutuhkan barang atau jasa tertentu.
Contohnya, Anda punya toko baju online dan ada pelanggan yang bertanya tentang ukuran, model, dan meminta rekomendasi yang cocok dengan mereka sebelum melakukan pembelian.
6. Jenis Bisnis
Client lebih sering ditemukan dalam bisnis yang membutuhkan layanan profesional, seperti konsultan, hukum, desain, atau pemasaran.
Bisnis yang melibatkan client adalah jenis bisnis yang menawarkan jasa khusus dan punya hubungan jangka panjang dengan klien. Jadi, hubungannya business-to-business.
Sementara itu, customer lebih sering terlibat dalam bisnis ritel atau produk massal, seperti restoran, toko online, atau supermarket.
Bisnis yang melayani customer biasanya lebih bersifat B2C (business-to-consumer), di mana mereka menjual produk atau jasa untuk digunakan sekali saja.
7. Ekspektasi
Ekspektasi client lebih tinggi dan lebih spesifik. Mereka berharap mendapatkan layanan yang sangat sesuai dengan kebutuhan mereka, dan punya tujuan jangka panjang yang jelas.
Mereka juga sering menuntut lebih banyak komunikasi, pembaruan, dan perubahan sesuai kebutuhan.
Misal, klien agensi pemasaran yang meminta meeting dua minggu sekali untuk membahas performa di bulan ini dan strategi di bulan selanjutnya.
Ekspektasi customer biasanya lebih sederhana. Mereka cuma ingin mendapatkan produk atau jasa yang mereka beli dengan kualitas yang sesuai dan sesuai dengan harga yang dibayar.
Kalau pakai contoh beli baju online, pelanggan pasti berharap barangnya datang tepat waktu dan sesuai dengan deskripsi produk.
Kesimpulan
Client adalah orang atau perusahaan yang membutuhkan layanan khusus dan terus-menerus, biasanya dengan hubungan yang lebih intens dan jangka panjang.
Berbeda dengan customer yang lebih fokus pada transaksi satu kali, beberapa kali, atau sesekali. Client juga mengharapkan layanan yang lebih sesuai kebutuhan spesifik mereka dan terikat kontrak.
Nah, bagi Anda yang butuh sistem kasir praktis untuk bisnis kuliner, yuk coba aplikasi kasir Nutapos!
Nutapos mudah digunakan, bisa bantu:
- Proses transaksi online dan offline.
- Manajemen stok, produk, karyawan.
- Puluhan laporan bisnis detail.
- Buat customer base dengan input data dasar pelanggan.
Dengan beragam fitur ini, Nutapos pasti bisa mendukung bisnis kuliner Anda dalam membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Yuk, coba Nutapos sekarang dengan mendaftarkan akun Anda melalui backoffice nutacloud dan unduh aplikasinya sekarang (khusus Android)!
