Persediaan atau inventory adalah segala barang atau bahan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan untuk mendukung operasional bisnisnya. Mulai dari:
- Bahan baku yang akan diproses.
- Barang yang masih dalam tahap produksi.
- Barang yang sudah jadi, siap dijual.
- Peralatan untuk operasional.
Persediaan secara langsung mempengaruhi kelancaran produksi. Kalau persediaan kurang, bisnis kesulitan memenuhi permintaan pelanggan. Tapi kalau terlalu banyak, biaya operasional bisa membengkak.
Makanya, penting untuk memahami pengertian lengkap, jenis, sampai cara mengelola persediaan dengan benar.
Apa Itu Inventory atau Persediaan dalam Akuntansi?

Dalam ilmu akuntansi, persediaan atau inventory adalah semua barang atau bahan yang dimiliki perusahaan untuk diproduksi atau dijual.
Dalam laporan keuangan, persediaan dianggap sebagai aset lancar (current asset) karena biasanya akan dijual atau dipakai dalam waktu dekat (kurang dari setahun).
Seperti yang sudah dijabarkan, inventory bisa berupa (sekaligus contohnya dalam usaha kuliner):
- Bahan baku mentah: Beras, daging, sayuran, minyak goreng, dan tepung.
- Barang setengah jadi: Pizza belum dipanggang, espresso belum diproses jadi latte.
- Barang siap dijual: Produk makanan atau minuman akhir, siap dimakan pelanggan.
- Pemeliharaan, perbaikan, dan operasional: Alat dapur, peralatan kebersihan.
Nilai persediaan ini sangat berpengaruh terhadap laporan laba rugi dan neraca keuangan perusahaan Anda nantinya.
Baca juga: Cara Menghitung Biaya Bahan Baku dan Menentukan Harga Jual
Peran Inventory dalam Laporan Keuangan
Persediaan memiliki nilai, yang mana nilai ini mempengaruhi dua laporan keuangan: laba rugi dan neraca. Berikut penjelasannya:
1. Pengaruh Persediaan terhadap Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi digunakan untuk menghitung keuntungan atau kerugian suatu perusahaan selama periode tertentu.
Dalam laporan ini, persediaan berperan penting dalam menghitung harga pokok penjualan (HPP).
HPP dalam inventory adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang yang dijual, yang meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead.
Ketika persediaan barang dijual, biaya yang terkait dengan barang tersebut akan dicatat sebagai bagian dari HPP.
Semakin besar persediaan barang yang tersedia, semakin rendah HPP yang tercatat, karena barang yang dijual berasal dari persediaan yang sudah ada. Ini akan meningkatkan laba perusahaan.
Sebaliknya, jika persediaan kurang, maka perusahaan harus membeli lebih banyak bahan atau barang baru, yang bisa meningkatkan HPP dan menurunkan laba yang dihasilkan.
2. Pengaruh Persediaan terhadap Laporan Neraca Keuangan
Laporan neraca keuangan mencatat posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu, mencakup dua kategori utama: aktiva (aset) dan pasiva (kewajiban).
Persediaan tercatat sebagai bagian dari aktiva lancar dalam laporan neraca, yang berarti barang-barang tersebut diperkirakan akan dijual atau digunakan dalam waktu kurang dari satu tahun.
Semakin tinggi nilai persediaan, semakin besar nilai aktiva lancar yang tercatat. Ini dapat memperlihatkan perusahaan memiliki lebih banyak sumber daya untuk diperdagangkan.
Jika persediaan terlalu banyak dan tidak bergerak (barang yang rusak atau kedaluwarsa),nilai aktiva tersebut akan turun.
Ini bisa mengurangi total kekayaan bersih perusahaan, yang tercatat di bagian pasiva neraca sebagai ekuitas perusahaan.
Baca juga: Laporan Pembukuan Kasir Restoran: Cara Mudah Kelola Keuangan
4 Jenis Persediaan Barang dalam Bisnis
Persediaan barang dalam bisnis bisa dibagi menjadi empat jenis utama. Ini penjelasan lengkapnya:
1. Bahan Baku (Raw Materials)
Bahan baku pada inventory adalah barang atau material yang digunakan bisnis untuk memproduksi barang jadi. Contohnya tepung bagi pabrik roti, baja untuk pembuatan mobil, atau biji kopi untuk kafe.
Bahan baku merupakan elemen pertama yang masuk ke dalam proses produksi dan akan diubah menjadi produk jadi atau barang setengah jadi.
Persediaan bahan baku harus cukup agar produksi dapat berjalan lancar tanpa terhambat kekurangan material.
2. Barang dalam Proses (Work in Progress/WIP)
Barang dalam proses pada inventory adalah barang yang sudah melalui sebagian tahap produksi, tetapi belum selesai. Misalnya, mobil yang sudah dirakit sebagian atau nasi goreng yang sedang dimasak.
Persediaan WIP ini menggambarkan barang yang belum siap untuk dijual, namun memerlukan waktu dan proses tambahan untuk menjadi barang jadi.
Persediaan WIP harus dikelola demi menghindari penumpukan barang yang belum selesai, sebab bisa menambah biaya produksi.
3. Barang Jadi (Finished Goods)
Barang jadi pada inventory adalah produk yang sudah selesai diproduksi dan siap dijual kepada pelanggan. Contohnya adalah pakaian yang sudah selesai dijahit atau ponsel yang sudah siap untuk didistribusikan.
Barang jadi berhubungan dengan pendapatan perusahaan, karena biasanya dapat dibeli langsung oleh konsumen.
Persediaan barang jadi harus cukup untuk memenuhi permintaan pasar, namun tidak boleh berlebihan agar tidak menambah biaya penyimpanan yang tidak perlu.
4. Pemeliharaan, Perbaikan, dan Operasional (Maintenance, Repair, and Operations/MRO)
MRO dalam inventory adalah barang-barang yang digunakan untuk mendukung operasional perusahaan, seperti alat service mesin, perlengkapan kantor, dan bahan pembersih.
Meski tidak dijual atau digunakan langsung dalam produk akhir, MRO perlu selalu ada agar operasional harian tidak terganggu karena kehabisan barang.
Misalnya, oli untuk mesin pabrik atau sabun untuk membersihkan peralatan dapur di restoran.
Strategi Persediaan Barang untuk Inventory Control
Ada beberapa metode yang bisa dipilih untuk mengelola sistem inventory. Berikut penjelasan empat metode yang paling umum digunakan.

1. Metode FIFO (First In, First Out)
Pada metode FIFO, barang yang pertama kali masuk dalam inventory adalah barang yang pertama kali juga dijual atau digunakan. Jadi, barang paling lama di gudang akan dikeluarkan terlebih dahulu.
Misalnya, Anda masih memiliki stok 4 susu kotak untuk buat latte. Besoknya, Anda beli lagi 6 kotak sebagai persiapan.
Nah, sisa 4 kotak tersebut Anda gunakan terlebih dahulu. Dalam praktiknya, yang 6 kotak tadi disusun rapi di belakang 4 kotak susu kemarin. Agar memudahkan pengambilan dan proses produksi.
Metode FIFO cocok dipakai untuk barang atau bahan yang mudah rusak atau kedaluwarsa, dengan masa simpan terbatas.
2. Metode LIFO (Last In, First Out)
Metode LIFO ini kebalikan dari FIFO, di mana barang yang terakhir kali masuk ke dalam persediaan dalam inventory adalah barang yang pertama kali dijual atau digunakan.
Pakai contoh 4 dan 6 kotak susu tadi, Anda pakai yang 6 kotak terlebih dahulu. Jadi, barang lama akan tetap ada di stok.
Nah, metode LIFO hanya cocok digunakan ketika Anda menjual barang dengan harga yang naik terus-menerus. Contohnya, ponsel keluaran terbaru vs. keluaran lama.
Tidak cocok dipakai untuk barang yang cepat rusak, karena kalau tidak laku, barang tersebut pasti akan terbuang.
Namun, LIFO tidak diizinkan dalam banyak negara, apalagi yang mengikuti standar akuntansi internasional IFRS (International Financial Reporting Standards).

3. Metode Biaya Rata-Rata (Average Cost)
Pada metode Biaya Rata-Rata, biaya per unit dihitung dengan mengambil rata-rata dari semua barang yang ada dalam stok. Meskipun harga barang yang masuk berbeda-beda.
Misalnya, Anda membeli 100 unit barang dengan harga Rp10.000 dan 200 unit barang yang sama dengan harga Rp12.000. Maka, harga rata-rata per unit dalam inventory adalah:
Harga Rata-Rata = [(100 x Rp10.000) + (200 x Rp12.000)] / 300 = Rp11.333
Dengan harga rata-rata ini, setiap barang yang keluar dihitung berdasarkan harga tersebut.
Metode ini lebih sederhana dan mudah diterapkan, cocok jika barang yang dijual memiliki harga yang relatif mirip atau tidak terlalu naik turun.
Biaya yang tercatat di laporan keuangan juga lebih stabil, sehingga lebih mudah untuk diprediksi.
Namun, metode ini kurang akurat ketika ada perbedaan harga yang signifikan antara barang yang baru masuk dan yang lama.
4. Just-in-Time (JIT)
Just-in-Time (JIT) pada inventory adalah strategi manajemen persediaan di mana barang hanya dibeli atau diproduksi ketika dibutuhkan saja, dan tepat pada waktunya.
Persediaan yang ada di gudang bisa sangat minim atau hampir tidak ada. Metode JIT bisa mengurangi biaya penyimpanan dan risiko barang rusak.
Namun, JIT sangat bergantung pada kelancaran pasokan. Jika ada masalah pada supplier atau pengiriman terlambat, produksi bisnis bisa terganggu.
Oleh sebab itu, JIT tidak cocok untuk bisnis yang membutuhkan barang dalam jumlah besar atau yang tidak dapat memprediksi permintaan pelanggan dengan akurat.
Baca juga: Nutapos: Aplikasi Kasir Terbaik untuk Usaha Kuliner di Indonesia
Bagaimana Aplikasi Kasir Mempermudah Manajemen Inventory?
Aplikasi kasir atau POS (Point of Sale) dapat membantu bisnis mengelola persediaan barang atau bahan secara otomatis.
Dengan menggunakan fitur Manajemen Stok, seperti yang ada di aplikasi inventory barang sekaligus sistem kasir Nutapos.
Pelacakan stok real-time; setiap ada penjualan berhasil, nantinya sistem akan otomatis mengurangi stok barang yang sudah tercatat.
Nutapos juga memberi notifikasi saat stok barang menipis, sehingga Anda bisa langsung melakukan pemesanan ulang.
Selain itu, ada lagi fitur laporan otomatis lain yang memudahkan operasional bisnis Anda, seperti:
- Laporan penjualan (produk, varian tambahan, rata-rata belanja pelanggan, dkk)
- Laporan pembelian (stok dari supplier, pengeluaran untuk stok, dkk)
- Laporan laba (rincian total keuntungan, HPP, dkk)
- Laporan stok (rekap semua stok, kartu stok per item, dkk)
Kesimpulan
Mengelola persediaan atau inventory adalah hal yang wajib dilakukan untuk kelancaran bisnis. Dengan memahami strategi umum yang dipakai, Anda pun bisa memastikan rantai pasok tetap aman.
Gunakan pula teknologi pendukung seperti aplikasi kasir Nutapos untuk memantau stok, agar Anda dapat menghindari masalah kelebihan atau kekurangan barang.
Tertarik untuk coba aplikasi dan semua fitur dasarnya? Langsung daftarkan bisnis Anda pada halaman backoffice nutacloud.
Ingin konsultasi dan demo gratis? Klik banner di bawah untuk terhubung langsung dengan WhatsApp Customer Service Nutapos!
