Komponen sistem pembayaran di Indonesia itu ada banyak, mulai dari pengguna, penyedia layanan pembayaran, sampai aturan yang berlaku.
Setiap elemen pun bekerja sama untuk memastikan semua transaksi yang Anda lakukan berjalan lancar, cepat, dan aman.
Alurnya cukup kompleks, karena melibatkan berbagai komponen. Walaupun terlihat sangat simpel ketika kita bayar makanan secara digital di restoran, cukup scan dan klik selesai.
Artikel kali ini akan bahas semua komponen dan bagaimana mereka berperan dalam mempermudah transaksi. Nah, buat Anda yang ingin tahu lebih dalam, simak sampai habis ya!
Apa Itu Sistem Pembayaran?
Sistem pembayaran adalah cara seseorang atau suatu entitas untuk melakukan transaksi, seperti membeli barang, membayar jasa, atau mengirim uang.
Proses yang terlibat dalam pertukaran uang ini bisa dilakukan secara langsung (barter, tunai) atau digital (pakai aplikasi, kartu, penyedia layanan keuangan tertentu).
Tujuan dari adanya sistem pembayaran adalah untuk memudahkan seluruh aktivitas ekonomi (seperti jual beli) dengan cara yang aman dan efisien.
Komponen Sistem Pembayaran di Indonesia
Ada tujuh pihak yang jadi komponen dari aktivitas pembayaran di Indonesia. Yuk, kita bahas satu per satu!
1. Pengguna (User)
Pengguna dalam sistem pembayaran adalah orang yang melakukan transaksi/pembayaran atau pihak yang mengirim uang. Bisa sebagai:
- Buyer: Individu yang ingin membeli barang atau memakai jasa.
- Merchant: Entitas, organisasi, bisnis, dsb yang ingin melakukan pembayaran besar.
Cara kerja pengguna sangat sederhana: mereka memilih barang atau layanan, memilih metode pembayaran, dan melakukan transaksi.
Pengguna cukup memilih barang atau layanan, memilih metode pembayaran, dan menyelesaikan transaksi.
Di Indonesia, banyak orang yang sudah beralih menggunakan pembayaran digital, lewat dompet digital atau transfer bank.
Ada juga yang menyebutnya sebagai cashless society, di mana mereka tidak membawa uang tunai atau lebih suka pakai metode yang cepat dan praktis.
2. Penyedia Layanan Pembayaran (Payment Service Provider/PSP)
Penyedia Layanan Pembayaran adalah pihak yang memfasilitasi transaksi antara buyer (pembeli) dan merchant (penjual).
Mereka bertanggung jawab untuk menyediakan platform atau aplikasi yang memungkinkan proses pembayaran berlangsung dengan mudah dan aman.
Jadi, pengguna cukup unduh aplikasi dan menyelesaikan transaksi langsung lewat smartphone mereka.
Di Indonesia, penyedia ini adalah bank atau perusahaan fintech (financial technology) yang menyediakan berbagai layanan pembayaran, seperti Mandiri, BRI, GoPay, OVO, atau DANA.
Baca juga: Proses Pembayaran Restoran: Metode dan Tips Mempercepatnya
3. Alat Pembayaran (Payment Instruments)
Alat pembayaran merujuk pada cara atau metode yang digunakan oleh pengguna untuk melakukan transaksi. Alatnya bisa bermacam-macam, mulai dari:
- Uang tunai yang paling sederhana.
- Kartu kredit/debit.
- Sistem pembayaran digital seperti e-wallet.
- Kode QR, seperti QRIS.
4. Payment Gateway dan Payment Processor
Payment gateway adalah sistem yang menghubungkan situs atau aplikasi dengan pihak yang memproses pembayaran.
Di lain sisi, payment processor yang memproses dan memverifikasi informasi transaksi tersebut. Biasanya, kedua komponen ini bekerja sama dalam setiap transaksi digital.
Cara kerjanya, misal Anda ingin menyederhanakan proses pemesanan dan metode pembayaran di restoran, dengan cara pelanggan cukup pindai kode QR menu di meja dan bayar secara digital saja.
Jadi, minim kontak fisik dan antrean di konter kasir. Nah, kalau Anda pakai aplikasi kasir Nutapos, hal ini mudah dilakukan dengan cara pakai fitur tambahan My nutapos.
Nutapos sudah bekerja sama dengan payment gateway Midtrans yang mengumpulkan banyak alat pembayaran dalam satu platform. Jadinya, proses ini bisa selesai dalam hitungan menit!
Alurnya seperti ini:
- Pelanggan cukup pindah kode QR menu di meja.
- Pelanggan pesan makanan dan bayar secara digital (misal GoPay).
- Payment gateway Midtrans menghubungkan alat bayar pelanggan ke merchant.
- GoPay memproses dan memverifikasi transaksi tersebut.
- Dana sampai ke rekening Anda (merchant).
Jadi, payment gateway yang menyampaikan data transaksi, sementara payment processor yang menangani transaksi itu di belakang layar.

5. Issuer dan Acquirer
Issuer adalah lembaga keuangan (bank) yang mengeluarkan kartu kredit atau debit untuk pengguna.
Jadi, kalau pelanggan punya kartu kredit/debit BCA, bank yang mengeluarkannya disebut issuer.
Issuer bertugas memverifikasi dan mengotorisasi transaksi yang dilakukan oleh pengguna kartu.
Ketika pelanggan bayar dengan kartu kredit BCA, BCA sebagai issuer akan memastikan transaksi tersebut sah dan uang pelanggan tersedia untuk dipotong.
Pelanggan pindai kode komponen sistem pembayaran dari rekening penjual.
Sedangkan Acquirer adalah bank atau lembaga keuangan yang bekerja sama dengan merchant atau penjual.
Tugasnya menerima pembayaran dari pengguna kartu dan mentransfernya ke rekening atau akun pedagang.
Pakai contoh yang tadi, pelanggan bayar pakai BCA ke, misalnya, akun bisnis ShopeePay Anda. Nah, ShopeePay sebagai acquirer akan memproses transaksi ini dengan menghubungi issuer.
6. Jaringan Pembayaran (Payment Network)
Jaringan pembayaran adalah sistem yang menghubungkan berbagai bank, penyedia layanan pembayaran, dan merchant untuk memproses transaksi.
Komponen sistem pembayaran ini bisa berupa sistem kartu seperti Visa, MasterCard, atau jaringan domestik seperti Indonesian National Payment Gateway (NPG) yang digunakan oleh bank-bank domestik.
Ketika Anda melakukan pembayaran dengan kartu debit/kredit, jaringan pembayaran inilah yang memastikan transaksi bisa diproses dan diterima oleh pedagang.
7. Regulasi dan Perlindungan Data dalam Pembayaran
Supaya semua transaksi yang dilakukan lewat teknologi pembayaran modern sudah pasti aman dan terpercaya, harus ada regulasi dan perlindungan data finansial pengguna.
Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) yang mengatur sistem pembayaran agar berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan masalah.
BI pun yang menetapkan aturan tentang alat pembayaran sah, bagaimana transaksi harus dilakukan, berapa biaya yang diperlukan, serta bagaimana data pribadi pengguna dilindungi.
Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga punya aturan standar keamanan yang harus dipatuhi oleh para penyedia layanan pembayaran. Berikut beberapa regulasi terkait hal ini:
- Peraturan Bank Indonesia Nomor 3 Tahun 2023
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 6/POJK.07/2022
- Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP)
Jenis dan Contoh Sistem Pembayaran
Jika diringkas, jenis dan contoh komponen sistem pembayaran bisa dikelompokkan menjadi dua saja:
1. Tradisional (Barter dan Tunai)
Barter merupakan cara yang paling tua untuk proses pertukaran barang atau jasa antara dua pihak atau lebih.
Pembeli dan penjual tidak menggunakan nilai tukar uang yang sama, melainkan setiap pihak menawarkan sesuatu yang mereka miliki atau meminta yang mereka butuhkan ke pihak lain.
Saat ini, barter masih dipakai oleh banyak pihak. Contohnya, jika restoran Anda memberikan produk gratis ke pelanggan setia sebagai pembayaran untuk buat konten promosi.
Sementara itu, pembayaran tunai melibatkan penggunaan uang fisik (kertas atau koin) untuk membayar barang atau jasa.
Nah, di sini nilai tukarnya sama. Jika Anda memasang harga ayam goreng Rp10.000 dan ada yang beli, pelanggan akan bayar dengan nilai uang yang sama.
Namun, kedua jenis pembayaran tradisional ini kurang praktis untuk menyelesaikan transaksi dalam jumlah besar. Sebab, ada risiko kehilangan uang atau nilai tukar yang tidak adil antara dua belah pihak.
Baca juga: Manfaat QRIS Pembayaran bagi Pembeli dan Pebisnis Kuliner
2. Digital (Fintech, Bank, Cryptocurrency, dsb)
Sistem pembayaran digital sekarang telah jadi pilihan utama bagi banyak orang di Indonesia, apalagi generasi muda. Karena sangat praktis dan cepat, cukup menggerakan jari di layar handphone saja.
Ada banyak jenis pembayaran digital di Indonesia, seperti:
- Transfer bank (Virtual Account, ATM, Internet Banking, Mobile Banking)
- Dompet digital GoPay, DANA, OVO, ShopeePay)
- Kode QR (QRIS atau dari aplikasi tertentu).
Kelebihannya, transaksi digital sangat cepat, aman, dan tidak terbatas hanya di satu lokasi (bisa antar negara, asalkan ada koneksi internet).
Selain contoh di atas, ada lagi pembayaran digital pakai uang kripto (cryptocurrency), seperti Bitcoin, Ethereum, dan Litecoin.
Alat pembayaran ini tidak terikat dengan bank atau lembaga keuangan manapun karena sifatnya yang terdesentralisasi. Artinya tidak ada pihak ketiga seperti bank yang terlibat dalam transaksi.
Cryptocurrency menggunakan teknologi blockchain, sehingga lebih cepat proses transaksi dengan biaya yang lebih rendah, terutama untuk transaksi internasional.
Walaupun sudah ada yang pakai di luar negeri, penggunaan cryptocurrency masih tidak diakui sebagai alat bayar yang sah di banyak negara, termasuk Indonesia.
Ada juga kelemahan dari mata uang kripto, seperti fluktuasi harga yang kurang stabil (nilai bisa naik turun dengan drastis).
Kesimpulan
Itu dia penjelasan lengkap mengenai komponen sistem pembayaran di Indonesia! Dari pengguna, penyedia layanan pembayaran, hingga peraturan dari Bank Indonesia yang menjaga keamanan.
Dengan berkembangnya teknologi, sistem pembayaran jadi semakin praktis dan aman, terutama dengan adanya metode pembayaran digital yang semakin populer.
Bagi Anda yang punya bisnis kuliner, penting untuk memahami sistem ini supaya Anda bisa menyediakan alat bayar yang sering dipakai oleh pelanggan.
Dengan begitu, pelanggan akan merasa nyaman dan bisnis bisa terima pembayaran dari alat apa saja.
Jika Anda ingin catat semua transaksi penjualan secara otomatis dan menyediakan opsi pembayaran digital, segera pakai aplikasi kasir Nutapos!
Nutapos dibuat khusus untuk bisnis kuliner di Indonesia, dan mendukung beragam metode pembayaran, seperti:
- Tunai.
- E-wallet.
- EDC.
- Transfer bank.
- QRIS statis.
Terlebih lagi, Nutapos menyediakan demo dan masa trial gratis selama 14 hari! Ingin tahu lebih lanjut? Lihat ratusan ulasan pengguna di sini atau langsung buat akun Anda di backoffice nutacloud.
